Wednesday, September 24, 2014

Terjadi

Apa yang aku takutkan terjadi juga.
Apa yang tidak aku harapkan terjadi, terjadi juga.

Dia memang seorang laki-laki dewasa. Dan aku masih seorang ABG labil.

Aku nggak boleh lebay, aku anak slow.
Aku nggak boleh sedih, aku nggak pantes kayak gitu.
Aku udah besar, aku juga harus berbesar hati.

Maaf, tapi aku nggak bisa bilang aku bahagia.

Ya, aku kembali jatuh.

Aku bodoh.

Aku... mau belajar.
Setidaknya aku masih ingin impianku yang satu ini terus hidup. 

Saturday, September 20, 2014

Kalau dia nembak kamu, diterima nggak?

Kemarin, di sela-sela jantungan di kelas SO yang udah bikin stress dari seminggu sebelumnya, teman sebelah tanya, "Kalau misalnya sekarang orang yang kamu suka bilang kalau suka kamu dan nembak kamu, diterima nggak?"

Harusnya pertanyaan ini gampang. Tinggal jawab, ya apa nggak.

Tapi aku punya "kompleks" yang sebenernya aku juga nggak tau di mana letaknya.

Apa karena aku mau fokus kuliah dulu? Nggak kok. Aku kuliah santai aja. Selama teman-teman tercinta ini masih punya rasa solidaritas untuk kirimin codingan lewat email dan janjian nggak acc, aku sangat santai. Tugas ini itu pasti dikerjain 12 jam sebelum masuk kuliah.

Terus apa masalahnya? Nggak ada alasan buat nggak nerima orang yang nembak itu, kan?

 Sepertinya, hasratku sebagai remaja buat "pacaran" sudah mulai menghilang. Walaupun sebenernya pengen juga kalau temen udah cerita tentang pacarnya, cuma rasa kepengen itu cuma hadir sejentikan jari. Karena di detik itu juga aku berpikir bahwa apa yang aku punya sekarang sudah lebih dari cukup.

Biar punya temen cowok? Populasi cowok di kampus lebih banyak malah dari pada cewek. Toh temen-temen cowok di sini juga santai. Mereka asik diajak curhat, main bareng, nonton bioskop malem-malem juga udah biasa.

Memangnya harus punya pacar? Memangnya harus pacaran? Kelebihannya punya pacar apa sih?

Biar ada yang nemenin nonton? kamu nggak punya temen, ya?
Biar bisa dianterin ke sana ke mari? Kamu anak manja, ya?
Biar ada yang merhatiin? Kamu kekurangan kasih sayang, ya?
Biar ada motivasi belajar? Kamu belajar buat pacar apa buat diri sendiri?

Jadi apa spesialnya pacar?

Mungkin ini efek jomblo kelamaan tapi aku cuma berpikir kenapa aku harus pacaran. Kenapa kayaknya jadi jomblo itu hina banget dan dianggap nggak laku. Bahkan, laku sendiri mempunyai arti yang sama dengan terjual. Apa kamu dibeli sama pacar kamu? Nanti pacaran, jarang ketemu sebentar aja udah ngambek terus purus. Maunya gimana? ketemu terus? Yaudah sih nikah aja. Udah di beli, sah lagi buat ngapa-ngapain jadi menghindarkan dari fitnah.

Kamu cinta sama pacar kamu? tapi kok bisa putus? Udah nggak cinta lagi? Terus janji-janji mesra dulu dikemanain? Hahaha remaja, remaja.

Mungkin kalian harus ngerasain dulu gimana kemana-mana harus sendiri. Ke bioskop sendiri, ngantri dokter sendiri, bayar kuliah sendiri, berangkat kuliah sendiri, pergi nonton konser sendiri, di rumah sendiri, belanja sendiri.

Iya, sesekali kamu harus bisa mandiri. Karena suatu saat nanti, ketika kamu punya pasangan hidup mereka bisa saja meninggal. Suatu saat nanti, anak-anakmu memuruskan untuk hidup di kota lain.

Siapa tau juga kalian akan merantau ke negeri seberang?

Jadi, buat apa pacaran? Kalau sendiri juga bisa.
Buat apa pacaran?

Saturday, August 23, 2014

Confession of a fan-girl

Pertama, aku sangat berterima kepada RCTI karena sudah membuat malam minggu hari ini mendadak... menyenangkan.


Tadi ada seorang laki-laki yang hanya bisa aku lihat melalui layar kaca. jarak kami terbentang jauh, aku tahu. dan aku menyadari juga. Pernah dengar lagu Project pop? "Dia berada jauh di sana dan aku di rumah. Memandang kagum pada dirinya dalam layar kaca. Apakah mungkin seorang biasa menjadi pacar seorang super star? Nggak mungkin. Nggak mungkin, Nggak mungkin bisa."

Kalau bicara jujur, sebenarnya aku mengalami suatu titik di mana I can't stop falling in love to him. Semua orang yang jatuh cinta pasti bilang, "Nggak. Yang kali ini beda rasanya. Pokoknya nggak bisa dijelasin." Dan aku juga sama. Dulu aku pernah menyukai Mikey Way sekitar 6 tahun lalu. Dan orang-orang terdekatku pasti tau gimana aku waktu itu. Aku kayak orang nggak waras. Sampai tiba-tiba hal aku sembuh dari dia dan aku mulai hidup normal lagi.

Dari ketika ayahku nggak ada sampai...  tiga tahun yang lalu. Ketika aku tiba-tiba terjebak di dunia seperti ini lagi. Tapi karena faktor umur dan faktor pengalaman kayaknya aku sekarang sudah bisa mengontrol diriku sendiri. Walaupun kadang aku kelepasan. Di saat aku melihat dia, dan ketika aku sendiri

Ada obsesi tersendiri dan rasa posesif tidak beralasan. Karena aku realistis, aku bahkan nggak bisa percaya kenapa aku bisa memiliki rasa posesif itu padahal aku sadar bahwa dia bukan punyaku. Dan aku yang seharusnya bisa bijaksana dan kalem. Aku memang gitu, tapi kalau aku lihat dia semuanya runtuh. Ketika aku  lihat dia aku cuma jadi "gadis". Jadi remaja yang masih pubertas. Jadi remaja yang masih labil.

Dan ketika itu juga aku berpikir bahwa... "Yes, I will live a life like this. Just like this."

Tapi aku nggak tau jadinya nanti kalau merek menikah. Aku harusnya menikah juga. Tapi... I don't know. Aku nggak mampu bayangin lagi. Aku nggak mampu bayangin pria macam apa selain dia. Karena tadi, aku masih jatun cinta.

Aku harusnya nggak begini, Aku harusnya bisa berpikir rasional. Aku selalu menjadi orang yang rasional dan logis. Harusnya begitu, tapi sekarang kenapa nggak bisa?

Sepertinya, satu-satunya cara agar aku bisa memuaskan perasaan ini adalah dengan kerja keras. I don't care. I shall quit playing around then started a new one.

Pray for me.

I may be not the luckiest fan alive, but I try to have the same result as them.