Wednesday, October 11, 2017

Music...?

To think about it... I really don't have one exact favorite music genre. Dari kecil disuguhin berbagai macam bentuk musik (karena orang tua berharap aku bisa jadi musisi, atau setidaknya bisa main alat musik). Jazz, blues, klasik, rock, metal, punk. Dari Chopin sampai Metallica. Lagu anak-anakpun dulu juga diperdengarkan. Mungkin, di antara anak-anak tetangga--bahkan temen-temen di sekolah, yang punya koleksi kaset anak-anak paling lengkap ya cuma aku. Dari Sherina, Joshua Suherman, Tina Toon, Trio Kwek-Kwek, Enno Lerian dulu ada semua.

Ayah adalah fans musik rock, ayah suka QUEEN. Setiap ada kesempatan, dia suka mendengarkan lagu-lagu dari album mereka. Jadi, ya jangan kaget kalo sebenernya aku juga suka. It's just good, period.

Karena preferensi musikku ini agak berbeda dari orang-orang yang seumuran denganku aku jadi punya pertanyaan: kalo misal besok pasanganku nggak suka QUEEN, what would I do?

Aku nggak mungkin untuk nggak mendengarkan lagu-lagu lama seperti ini. Mungkin mendengarkan pake earphone adalah solusi, tapi sadarkah kalian kalau cara mendengarkan musik paling menyenangkan adalah dengan menggunakan speaker tanpa ada kabel bergelantungan di telinga--dan sekeras mungkin.

Walaupun aku pada akhirnya bukan seorang musisi atau bahkan bekerja di industri itu, tapi ya.. gimana ya.. it's a part of me, music. Can't really tell why but I grew up with it.


Tuesday, September 12, 2017

Update: Rambling (part 2)

I never thought this day would come. The day when the answers come. 

Baca : Rambling untuk tahu cerita sebelumnya.

Setengah tahun yang lalu, aku penasaran kenapa aku bisa merasa aneh waktu ketemu sama dia. Walaupun aku nggak mencari jawabannya (karena ada satu hal yang lebih penting dari itu), kemarin semacam diberi pencerahan. 

Kemarin aku ketemu dia lagi, nggak sengaja sama sekali. Jantungku masih aman dan jantungku nggak berdetak cepat--normal. Ini membuktikan kenapa jantungku berdetak cepat sebelumnya: aku naik tangga. 

Funny feelings? Kemarin nggak ada sama sekali. It was normal. Normal. Sangat normal. 

(I don't want to admit that I did go inside of the store again after I met him)

Tapi selain itu, semuanya normal. Jantungku berdetak normal, nggak ada ketawa cekikikan kayak orang gila, nggak ada rasa menyenangkan. Semuanya normal. Semacam hari-hari biasanya. 

Yang sebenernya aneh juga karena dulu udah kebiasa selama delapan tahun tiba-tiba menghilang perasaan itu. Tapi ya baguslah setidaknya sesuai dengan skenario. Tinggal skenario besarnya ini beneran akan dikabulin sama Tuhan apa nggak. Semoga aja iya. Amiin (?)

Yes, I moved on. 

Tuesday, August 22, 2017

Bye, Amybot.

There is a reason why I decide to post a blog. 

Akhirnya, setelah minta sama Ibu selama dua tahun lebih, setelah berjuang karena lemotnya laptop sebelumnya, dan setelah Ibu nyobain rasanya laptop yang lama, akhirnya ibu mengizinkan punya yang baru. 

Oh, yaampun hatiku. 

Sebenernya udah cari-cari dari minggu lalu. Tapi rasanya minggu lalu tuh nggak bisa nemu yang sabaik Amybot (laptop lama). Rasanya beda aja. Amybot adalah laptop paling alegan yang pernah aku lihat. Amybot itu manis banget eksteriornya. Dia punya detil-detil desain unyu yang mungkin orang lain nggak lihat di dia. Waktu pertama kali aku lihat dia, aku langsung pilih dia, kayak destiny. Aku bilang ke ibuku, "Pokoknya harus yang ini. Yang ini warnanya coklat, beda sama yang lain." Karena awalnya aku kira Amybot punya warna hitam (kayak kebanyakan warna laptop lain), tapi setelah dilihat-lihat ternuaya warnanya coklat tua yang memang nyaris hitam. 

Dan waktu nyari yang baru ini, kupikir aku bakalan punya ketertarikan yang sama, tapi ternyata enggak. Susah juga cari laptop sekarang. Bukan karena spesifikasinya yang beragam dan sesuai kebutuhan, karena nggak ada yang punya ketertarikan itu. 

Akhirnya butuh seminggu buat akhirnya dapet yang kayaknya baik. Jadilah aku beli si Tanpa Nama. Belum tau mau namain dia apa, karena nama Amybot itu sudah bagus banget dan aku nggak mau namain yang baru mirip-mirip dia. 

Terus gimana kabar Amybot nanti? Dia aku kasih ke ibu, biar buat seneng-seneng ibu, Jadi kalo aku kangen Amybot, masih bisa reunian.