Friday, July 24, 2020

Belakangan ini aku suka baca puisi

Lagi suka baca puisi. 
Mungkin karena merasa ada yang mengerti. 
Mungkin merasa aku tidak sendiri. 

Kata-katanya sulit. 
Tapi tidak semua tidak untuk dipahami. 
Bisa saja hanya dekorasi
Atau narasi
Atau basa-basi

Thursday, January 31, 2019

Film yang Bikin Mewek

Udah lama ya... apa kabar? :D

Nggak tahu kenapa kok belakangan ini nggak ada yang mau dibagiin di sini. Mungkin karena membiasakan diri nggak mengumbar sesuatu sekarang. Hmm. Mungkin sekarang udah bisa memilah mana yang bisa diumbar dan mana yang bukan sama sekali.

Jadi. Film.

Beda sama dulu yang sering banget ke bioskop. Sekarang ke bioskop udah jarang. Dan kebetulan karena kemarin pas pengen banget nonton film, Bohemian Rhapsody keluar.

Aku udah tahu bakal ada film Bohemian Rhapsody di tahun 2017/2016 (maklum memori otak mulai bermasalah kalau berkaitan sama waktu). Waktu itu aku lagi penasaran sama Mary Austin. Ya cuma baca-baca banyak artikel aja. Aku kok merasa kagum sama Mary Austin dan tertarik sama kisah percintaan dia sama Freddie Mercury. Dan setelah beberapa artikel (dan sedikit mewek), aku baca bahwa akan ada film biopik tentang Mary Austin dan Freddie Mercury di dalam film berjudul Bohemian Rhapsody.

Sempet pesimis kalau filmnya bakal besar. Tapi nyatanya.. wow. :D Nggak nyangka yang suka Queen jaman sekarang masih banyak padahal ini band jadul banget. Pas baca artikel kalau film ini bikin banyak orang tertarik, aku memutuskan untuk nonton setelah antusiasme orang berkurang.

Eh tapi ternyata setelah dua minggu, masih banyak aja yang nonton.

Kenapa sih nontonnya pas gak banyak orang? Karena aku yakin aku bakal mewek bombay. :D

Sampai sekarang aja kalau dengerin lagu Queen, tiba-tiba bisa mewek bombay apalagi nonton di bioskop pakai sistem audio yang keren begitu. Ya sudah deh, tersedu-sedu.

Dan ya memang begitu kenyataannya. Dari awal. Dari awal aku udah mewek. Ya begitulah dampak Queen di hidupku. Ampuh bener dah. :D. Padahal yang kasih pengaruh dah satu dekade menghilang dari muka Bumi selama satu dekade. Tapi ya yang namanya kebiasaan, mana bisa diubah.

Sayangnya saat itu aku nggak bawa tisu -_- jadi mewek jelek nggak bisa canti setelah selesai nonton.

(Aku mau komplain ah, kenapa yang jadi Roger Taylor nggak seganteng Roger Taylor hahaha)

Wednesday, April 4, 2018

Ketika Aku Merasa Tidak Berdaya

Selama hidup, aku nggak mengira kalau aku ini anak yang cengeng luar biasa. Mungkin semakin aku tua semakin cengeng. Mungkin, itu tandanya aku mulai menyadari kalau aku tidak berdaya sama sekali.

Selain masalah cita-cita yang selalu kepentok realita, aku masih punya satu impian lain yang sayangnya masih kepentol realita. 

Entah sejak kapan kok aku selalu kepikiran pengen jadi tenaga relawan di negara-negara yang membutuhkan, atau setidaknya kalau di Indonesia pengennya ke pelosok buat jadi relawan. Sayangnya jadi relawan ternyata butuh kemampuan juga. Ada yang butuh untuk jadi guru (yang aku sama sekali nggak mampu buat ngajarin orang lain), jadi medis (yang sampe sekarang aku liat orang punya luka aja masih mikir berkali-kali buat liat lukanya), jadi tenaga pembangun (yang mikirin sistem air atau cara bangun rumah, dan nyatanya aku nggak bisa sama sekali). Dan yang lebih bikin kaget adalah semua organisasi yang menawarkan program relawan pasti memberi syarat untuk lulus S-1. Ampun mau jadi relawan aja syaratnya banyak, padahal aku kan cuma pengen bantu, kenapa harus ada syarat punya pendidikan minimal kayak gitu. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ya memang perlu. Kalau relawan tersebut bukan seorang profesional dan nggak punya kemampuan apa-apa, dia mau memberikan kontribusi kayak apa? Aku kembali nggak berdaya, bahkan aku sarjana aja masih gelap, belum ada titik terang sama sekali. 

Ada lagi nemu buat sponsorin seorang anak. Wow, ini sih luar biasa. Kalau aku nggak bisa ke lapangan tapi setidaknya aku bisa menolong satu orang anak yang membutuhkan. Dan ketika buka situsnya, jreng! Nggak cuma ada satu anak, tapi puluhan anak di sana dengan foto mereka yang bahagia, mulai dari bayi sampai yang usianya 10 tahun terpampang di situs itu. Rasanya hati ini sakit, masa aku harus pilih satu dari mereka sedangkan mereka semuanya butuh sponsor. Bahkan ada yang sudah menunggu diberi sponsor sampai lebih dari 700 hari yang lalu (04/04/2018). Aku kan nggak tega kalau cuma pilih satu. Cita-cita mereka aja macem-macem, siapa sih yang nggak mau bantu anak-anak masa depan bangsa ini buat mencapai cita-citanya? Dan di situ aku cuma bisa mendesah, seandainya aku mampu buat sponsorin semua anak-anak ini

Tapi aku masih pengen bantu. Dengan cara apapun. Walaupun rasanya masih belum memuaskan, tapi kalau bisa bantu ya kan nggak papa. Akhirnya coba untuk cari tau bagian donasi. Di beberapa situs milik organisasi dari PBB, ternyata nominalnya bener-bener masuk akal. Disitu aku seneng banget. Tapi setelah nengok dompet, kosong. Aku ternyata nggak punya duit sama sekali. 

Apalah aku manusia yang nggak punya gelar edukasi, kerja cuma jadi freelancer yang kadang dapet kerjaan kadang nggak, dan penghasilannya aja cuma cukup buat bantuin beli beras (bukan beliin beras). Lagi, aku nggak berdaya. 

Waktu aku diumuran mereka, aku anak yang bahagia. Masih main sama temen-temen, bisa les ini dan itu, bisa makan enak 3 kali sehari, dapet kasih sayang orang tua, bisa nonton tv sepuanya kalau dibolehin, bisa beli majalah bobo tiap minggu, bisa main komputer, bisa sepedaan sama temen. Sedangkan mereka, belum tentu. Aku orang yang beruntung bisa lahir di keluarga yang bisa memberikan aku kehidupan seperti itu, makanya aku juga pengen anak-anak ini punya kesempatan yang sama sepertiku. 

Tapi ya itu, aku nggak berdaya. Seandainya aku adalah orang kaya, pengusaha sukses, mungkin aku bisa bantu mereka. Eh, nggak juga sih. Walaupun ya, Mark Zuckerberg atau Bill Gates bisa memberikan donasi gila-gilaan, tapi apakah aku mampu kepikiran sampe sana dengan uang sebanyak mereka? Atau misal 1% aja dari kekayaan mereka. Pasti akan beda lagi. Pasti, aku cuma akan mikir aku, aku, dan aku lagi. Pasti, aku akan jadi orang jahat toh sekarang juga jadi orang jahat, kan?

Tapi nyatanya, aku nggak berdaya. Sama sekali nggak berdaya. Cuma ada perasaan sedih, bersalah, karena toh rasanya pengen banget bantu mereka tapi aku nggak punya daya. 

Friday, February 2, 2018

I Have A Dream... but not really



Nggak seperti Martin Luther King Jr, aku nggak punya mimpi. It is so scary. Nggak punya mimpi artinya aku nggak punya tujuan, aku nggak punya motivasi dan aku nggak punya sesuatu untuk diperjuangkan. 

Ini aneh. Dulu aku dengan mudahnya menjawab pertanyaan "pengen jadi apa?". Dan itu mudah berganti-ganti. Mungkin itu penyebab aku nggak punya mimpi sekarang. Semuanya masih nggak pasti dan aku nggak suka sesuatu yang nggak pasti. 

Waktu masih TK, aku pengen kayak ibu, jadi Manager.  Itu karena aku selalu ada di kantor ibu dan toh orang tua nggak pernah menanamkan aku untuk punys profesi tertentu. Aku juga ingat waktu masih TK, aku pengen jadi Power Ranger kuning dan merah jambu, dan pengen jadi Sherina. Aneh kan? Padahal "textbook" pilihan karir anak tk itu kalo nggak polisi, dokter, ya presiden. 

Waktu masih SD, aku nggak inget aku pengen jadi apa aja. Yang kuinget aku pengen jadi pianis, jadi drummer, jadi konduktor musik, pengen jadi perenang dan pengen jadi penulis. Because that's all I did.. Aku les musik dan les renang, dan aku tahu dulu aku melakukannya dengan baik. Aku juga suka membaca, dan aku merasa tulisanku nggak buruk-buruk amat. Di SD juga aku punya pemikiran lucu... "Kalau semua cita-cita jadi presiden, kasian dong. Yang jadi presiden aja cuma orang satu aja." 

waktu di SMP, things got a little bit more interesting. Gara-gara detektif Conan, aku pengen jadi detektif. Gara-gara nonton CSI, aku pengen jadi ilmuan (atau orang yang kerja di laboraturium). Pengen jadi manager band gara-gara ayah dulu juga manager band dan saat itu yang udah nggak ada. Jadi penulis juga masih karena dulu lebih sering beli buku dan sering banget baca. 

Masuk SMA lebih keren lagi. Aku pengen jadi pembuat gitar, pengen jadi astrofisikawan, pengen jadi penulis. Aku sempet nggak pengen jadi apa-apa begitu masuk kelas dua SMA. Bahkan dulu daftar kuliah aja nggak mau karena aku memang nggak punya asalan buat masuk kuliah dan harus belajar lagi. Tapi akhirnya, aku pengen jadi kayak Abby Sciuto dan akhirnya kuliah. 

Sekarang begitu kuliah.... nope, aku nggak pengen kayak Abby Sciuto. Berat belajarnya harus banyak dan sangat rumit. Sarjana aja sulit begini gimana nanti ke depannya. Dan.... ya gitu.. sekarang nggak punya tujuan mau apa.

Walaupun banyak yang pengen aku lakuin, punya banyak harapan, tapi ya gitu. Hurdlenya banyak. Nggak dari eksternal yang seharusnya bisa dimaklumi, internal juga ada. Aku yang teledor sering jadi kendala. This is where I promise myself to be more careful.

Aku akhirnya beli buku agenda. Ya supaya nggak kelewatan aja. Walaupun google calendar membantu, I just don't really like it. 

Semoga aja ada jalannya, toh aku nggak pernah berharap jalannya terlalu mulus. Yang penting aku bisa menjalaninya aja.

Wednesday, October 11, 2017

Music...?

To think about it... I really don't have one exact favorite music genre. Dari kecil disuguhin berbagai macam bentuk musik (karena orang tua berharap aku bisa jadi musisi, atau setidaknya bisa main alat musik). Jazz, blues, klasik, rock, metal, punk. Dari Chopin sampai Metallica. Lagu anak-anakpun dulu juga diperdengarkan. Mungkin, di antara anak-anak tetangga--bahkan temen-temen di sekolah, yang punya koleksi kaset anak-anak paling lengkap ya cuma aku. Dari Sherina, Joshua Suherman, Tina Toon, Trio Kwek-Kwek, Enno Lerian dulu ada semua.

Ayah adalah fans musik rock, ayah suka QUEEN. Setiap ada kesempatan, dia suka mendengarkan lagu-lagu dari album mereka. Jadi, ya jangan kaget kalo sebenernya aku juga suka. It's just good, period.

Karena preferensi musikku ini agak berbeda dari orang-orang yang seumuran denganku aku jadi punya pertanyaan: kalo misal besok pasanganku nggak suka QUEEN, what would I do?

Aku nggak mungkin untuk nggak mendengarkan lagu-lagu lama seperti ini. Mungkin mendengarkan pake earphone adalah solusi, tapi sadarkah kalian kalau cara mendengarkan musik paling menyenangkan adalah dengan menggunakan speaker tanpa ada kabel bergelantungan di telinga--dan sekeras mungkin.

Walaupun aku pada akhirnya bukan seorang musisi atau bahkan bekerja di industri itu, tapi ya.. gimana ya.. it's a part of me, music. Can't really tell why but I grew up with it.


Tuesday, September 12, 2017

Update: Rambling (part 2)

I never thought this day would come. The day when the answers come. 

Baca : Rambling untuk tahu cerita sebelumnya.

Setengah tahun yang lalu, aku penasaran kenapa aku bisa merasa aneh waktu ketemu sama dia. Walaupun aku nggak mencari jawabannya (karena ada satu hal yang lebih penting dari itu), kemarin semacam diberi pencerahan. 

Kemarin aku ketemu dia lagi, nggak sengaja sama sekali. Jantungku masih aman dan jantungku nggak berdetak cepat--normal. Ini membuktikan kenapa jantungku berdetak cepat sebelumnya: aku naik tangga. 

Funny feelings? Kemarin nggak ada sama sekali. It was normal. Normal. Sangat normal. 

(I don't want to admit that I did go inside of the store again after I met him)

Tapi selain itu, semuanya normal. Jantungku berdetak normal, nggak ada ketawa cekikikan kayak orang gila, nggak ada rasa menyenangkan. Semuanya normal. Semacam hari-hari biasanya. 

Yang sebenernya aneh juga karena dulu udah kebiasa selama delapan tahun tiba-tiba menghilang perasaan itu. Tapi ya baguslah setidaknya sesuai dengan skenario. Tinggal skenario besarnya ini beneran akan dikabulin sama Tuhan apa nggak. Semoga aja iya. Amiin (?)

Yes, I moved on. 

Tuesday, August 22, 2017

Bye, Amybot.

There is a reason why I decide to post a blog

Akhirnya, setelah minta sama Ibu selama dua tahun lebih, setelah berjuang karena lemotnya laptop sebelumnya, dan setelah Ibu nyobain rasanya laptop yang lama, akhirnya ibu mengizinkan punya yang baru. 

Oh, yaampun hatiku. 

Sebenernya udah cari-cari dari minggu lalu. Tapi rasanya minggu lalu tuh nggak bisa nemu yang sabaik Amybot (laptop lama). Rasanya beda aja. Amybot adalah laptop paling alegan yang pernah aku lihat. Amybot itu manis banget eksteriornya. Dia punya detil-detil desain unyu yang mungkin orang lain nggak lihat di dia. Waktu pertama kali aku lihat dia, aku langsung pilih dia, kayak destiny. Aku bilang ke ibuku, "Pokoknya harus yang ini. Yang ini warnanya coklat, beda sama yang lain." Karena awalnya aku kira Amybot punya warna hitam (kayak kebanyakan warna laptop lain), tapi setelah dilihat-lihat ternuaya warnanya coklat tua yang memang nyaris hitam. 

Dan waktu nyari yang baru ini, kupikir aku bakalan punya ketertarikan yang sama, tapi ternyata enggak. Susah juga cari laptop sekarang. Bukan karena spesifikasinya yang beragam dan sesuai kebutuhan, karena nggak ada yang punya ketertarikan itu. 

Akhirnya butuh seminggu buat akhirnya dapet yang kayaknya baik. Jadilah aku beli si Tanpa Nama. Belum tau mau namain dia apa, karena nama Amybot itu sudah bagus banget dan aku nggak mau namain yang baru mirip-mirip dia. 

Terus gimana kabar Amybot nanti? Dia aku kasih ke ibu, biar buat seneng-seneng ibu, Jadi kalo aku kangen Amybot, masih bisa reunian. 


Sunday, May 14, 2017

Pet peeves

Hi!

It's been awhile, yes, I know, it's because my laptop is throwing tantrums at and behaving so I can't really having my happy time surfing the internet with it.

Talking about pet peeves.... Actually I am not the kind of person will talk very bluntly, if I don't like something I'd rather stay quiet. It really is annoying sometime but I tried to hold it in until... now. Now I want to tell you my pet peeves because it's getting harder each day since people don't know that I actually find it annoying and still doing it because I don't tell them. I need to talk about it somewhere so I'd rather write it down here instead of talking about it to them and having the relationship broke.

I don't know where to start.....

I find it annoying when a girl can't stand on their own, specially to the girls who think that their boyfriends are their worlds and their boyfriends have to be there for them. I mean, come on, you can do it. Why do you have to call your boyfriend and whinny when you're sick to your boyfriend, it is very annoying. Also when the girlfriend wants to meet the boyfriend on every holiday (everytime when it's not workdays). Like, WHY? Why you have to meet him everyday? Every single holiday? You just met him yesterday and why today you come to see him again? Don't you have life? Don't you have somwthing better to do on your own?

I also find it annoying when someone borrow my phone and playing it like their own, cheking my instagram feed, my gallery, and playing games in it without me saying "Sure, go ahead." Well, I wouldn't reject it if you say so, if I do, that means if it's not my phone is dying then it's my internet plan is almost over.

Have you ever fo a friend's post something like, "I'm faking my smile today."? Yes, that's one of my pet peeves too. I mean, why would you telling the world that you were just faking your smile? You put your fake smile so you hide your actual condition right, you wanted to look happy in front of them, correct? Then why are you telling people that you're just faking it. That is so pointless. Are you trying to get attention so bad? Ugh, very annoying,

I know that it's me getting older and I need to find a job but I find it very annoying when people asking me about my graduation. It's coming okay. It's coming, I will graduate, but it's not as easy as you think people. Well, if you do found it very easy to graduate then try it to be in my shoes when you lack of creative ideas for research. It's not that easy. When this talk's done there is something that follow, "Graduate and then get married." This is pretty annoying, very annoying. Why are you urging me to get married anyway? Because girls are supposed to follow their husbands around? Nope, I don't want to be completely like that. Like I said on my first pet peeves, I find it annoying when girls can't stand up on their own. I want to stand up on my own too. So don't ask me to settle down yet, I need to do something more important to that,

Did you ever find in your instagram feed where somebody posted a beautiful photo they took but it tagged to a location that is not the actual location of the photo taken. Like why you have to lie to other people of you whereabout? If you don't wantthem to know, just don't put the location tagging. It's as simple as that.

Well, those are some of my pet peeves. I think I have more but I can't really think of anything else.

So, what's your pet peeves?


Friday, January 27, 2017

rambling

What happened yesterday was like a hit to me. Too many things came to my mind. And somehow, I came to a conclusion.
I was being so stupid for this past eight years. I was just being too delusional and spoiled myself with bullshit. I let myself to be consumed by unrealistic imagination where I would be—in the end—going to be with him.
In the past eight years, what did I do? Just staying there where he spread his wings, flew here and there and now he’s ready to spread his wings even more wider to fly even more further away. It’s like I was living in a cave but doing my things but still waiting for him who went for a hunt in the jungle. Well, not exactly like that but let’s just think that way.
I always wait for him. Always, for eight years. Even though I started to like someone else I just couldn’t get away from him. It’s always him, coming around.
Yesterday I met him, again. Although I knew he would be there but I rejected that thought thinking that it was still in the holiday and he would be somewhere else. But I did meet him, on the stairs on the way to the second floor of his department building. I wasn’t going to meet him but I was going to meet my other friend who was about to have one step closer to graduation.
That moment I met him and he said my name and he asked me where I was going and smiled, my heart raced and my body felt funny. I couldn’t stop giggling, I couldn’t help myself to smile to myself. I couldn’t help to feel funny when he smiled but I didn’t smile at all because I was very surprised, I should’ve smiled to him since I smiled widely to the other friend I know that study there too and met him in the parking lot.
At home I began to think about that moment all over again. I began to analyze why my heart raced and why I had funny feeling inside me also why after all this time I just couldn’t let myself act normal to him.
I remember when I was conversing with my friend she commented that I just probably just like him as a fan (funny thing when he is not an idol but I idolize him but I don’t idolize him though?), she thought that is why I still like him after all this time. From her comment, I began to think of the person I liked before. I immediately thought of Mikey Way, after all this time and after all he did, I still think that he is hot, but not the same feeling I had for him before. And I was thinking about G-Dragon, but my feeling changed too. So, I didn’t agree with her but I am not taking this possibility in to the trash bin.
And my other friend said because I sincerely love him. I laughed it off and said that I don’t know love so I would definitely throw this possibility away.
But why did my heart race that day? I was thinking because I have feelings for him. But then I realized, we met on the second floor and it was holiday—school hasn’t started yet and it’s the third week of the holiday. Do you notice something? Yes, because climbing up the stairs became like an exercise. I hadn’t move my body since holiday started (if walking to the bathroom and kitchen don’t count), and then I had to climb the stairs to the second floor. Of course, my heart would race, it supposed to be that way.
My heart raced because I climbed the stairs not because of his smile.
My heart beats for me to live, not because of him.
I still have not figured out how my body felt funny and why I couldn’t stop giggling and everything but I will, it’s the matter of time. I just lack of knowledge to answer that. I just need more experience and more life to answer that.
It’s just the matter of time.
And it’s not like because I like him since I was young.
No, although I don’t what this feeling is but it is not love (yet).
I should keep away this thought that generalize love.
Because, now I know it is not.


Saturday, December 10, 2016

Something Dreamy

These days,  aku suka banget nonton TV. Mulai dari Fresh Off The Boat sampai House Hunters. Dari channel FOX sampai Crime Investigation.

Acara Fresh Off The Boat adalah acara lucu yang menceritakan keluarga yang dari Asia yang datang ke Amerika. Lucu, menarik, dan entah bagaimana aku bisa relate to them. Lalu ada 100 Things To Do Before High Scholl. Yes, I'm not a middle schooler tapi nyatanya aku masih menikmati acara ini. Mungkin karena aku punya masa remaja kurang bahagia. -_-" Nggak juga sih. Mungkin karena acara ini menarik dan rasanya pengen balik lagi ke jaman masih SMP dulu toh masa SMPku nggak menyedihkan banget. Selain karena waktu SMP aku pertama kalinya dapet nilai 10 di ujian Fisika, jaman SMP dulu nggak se-stress ini. Ya walaupun ada UNAS yang katanya nggak adil karena siswa harus belajar 3 tahun tapi kelulusan dtentukan dengan 3-4 hari ujian, toh rasanya nggak stress seperti kuliah 4 tahun, nyari ide skripsi, ngerjain skripsi sampai ujian pendadaran yang waktunya cuma 2 jam aja. Now you see how unfair it is for college students, my friend? I sincerely wish you the hard time of  pendadaran when you said UN is not fair.

Acara lainnya yang aku tonton adalah Zombie House Flipping, House Hunters, Island Hunters, Flip ot Flop dan lain sebagainya yang mirip. Kenapa? Aku juga kurang tahu. Tapi akhir-akhir ini aku mulai melirik ilmu desain interior dan ilmu memperbaiki rumah. Apalagi dengan menonton Tiny House Nation bisa sampai kepikiran buat punya satu ruangan yang fungsional walaupun kecil. Semacam mungkin pegangan nanti kalau memang dikasih kesempatan buat bangun rumah sendiri. Sambil nonton sambil ngumpulin ide bentuk dan model rumah masa depan (coba kalo cari ide skripsi segampang ini OTL).

Dan acara lainnya adalah semacam acara kriminal. Bukan cuma berita kriinal biasa, aku lebih suka acara yang mengupas tindakan kriminal itu. Misteri pembunuhan, misteri penculikan, misteri penipuan, dan segala macamnya. Bukan berarti aku pengen jadi penjahat. Cuma sepertinya dunia ini menarik saja. Siapa tau aku bisa menjadi salah satu law enforcement. Walaupun memang cuma sekedar harapan karena ya... cita-cita yang kayaknya lebih realistis adalah aku sebagai pekerja kantoran yang kerjaannya coding sampe mata sipit karena ngantuk.

Banyak yang aku dapatkan dari menonton TV; ilmu, hiburan, dan sesuatu untuk direnungkan. Di Fresh Off The Boat aku mengerti mengapa seseorang menginginkan yang terbaik untuk keluarga mereka dan untuk tidak mau ditindas karena mereka adalah FOB. Di 100 Things To Do Before High School aku mempelajari bawa kehidupan membosankan bisa menjadi ceria dengan adanya teman, yang ya kadang terlalu cerdas dan terlalu bodoh (But I love Christian Powers), dan di drama korea aku juga menyadari sesuatu.

Walaupun Pak Dosen bertanya kenapa para cewek suka sekali nonton drama korea dan menuduh adanya adegan ciuman yang menjadi alasannya, sebenarnya bukan hanya itu. Kalau aku, ada beberapa hal yang menjadi tertarik dengan drama Korea, dan salah satunya adalah pertanyaan menggelitik yang mereka punya. Kadang saat pemerannya bertanya kepada seseorang. dan pertanyaannya cukup menggeliktik.

Misalnya saat Yoon Yoonjae di Reply 1887 bertanya kepada Kng Junhee kenapa dia enyukai Sung Siwon. Dis situ aku juga bertanya kenapa aku bisa menyukai orang itu.  Yang sampai sekarang sebenrnya aku maih nggak tau kenapa karena kau rasanya itu datang dengan sendirinya tanpa aku tahu. Semacam magic.

Atau ketika Sung Deokseon ditanyai oleh ayahnya dia ingin menjadi apa, yang kemudian Deokseon jawab dia tidak ingin punya keinginan apa-apa. Saat itu aku berpikir apa yang ingin aku lakukan, tentu setelah lulus kuliah karena kalau saat ini ya aku ingin cepat lulus (walaupun definisi cepat ini agak sediit berbeda dari ibuku). Saat itu aku masih ingin untuk melanjutkan sekolahku, bukan bekerja. Walaupun sebenarnya sulit tapi kenapa tidak dicoba. Walaupun aku tahu juga bahwa sebenarnya nggak mungkin aku bisa lolos beasiswa karena toh aku nggak punya pengalaman lain di luar akademis. Tapi optimis, setidaknya untuk ketika aku mengajukan pertama kali aku dipanggil untuk wawancara.

I am the kind of person who likes to be told of something new, something that will blow my mind. Something that sometimes makes me silent for a moment, something deep, and something dreamy. 


Tuesday, October 25, 2016

kertas kusut

Tau nggak rasanya untuk menemukan ide? 

Buatku, luar biasa. 

Walaupun bukan ide judul skripsi (karena masih mentok ke tema dan belum nemu objek yang pas), setelah sekian lama aku dapat inspirasi untuk menulis. 

Tapi, layaknya bagian "masalah penelitian" di proposal skripsi, aku punya "masalah penulisan" di sini. Aku nggak tau harus mulai bagaimana. 

Sebenernya kalau aku menulis ini dengan bahasa Inggris, nggak ada masalah untuk memulainya. Rasa-rasanya jadi canggung. Memang sih akhir-akhir ini ketika aku mencoba untuk menuliskan sesuatu yang tidak terlalu serius yang bahkan aku nggak punya jalan terang cerita itu hanya menulis saja, aku menuliskannya dalam bahasa Inggris. Dan mungkin jadi terbiasa. Lagi pula sudah lama sekali sejak aku membaca buku berbahasa Indonesia jadi... mungkin terbawa. Padahal bahasa Inggrisku terbatas. Buktinya sampai sekarang baru sampai halaman 30...

Ketika ide ini muncul, aku bertekad untuk menulisnya dalam bahasa Indonesia. Karena lebih mudah untukku untuk menuliskan detailnya dalam bahasa Indonesia. Walaupun aku tahu aku lebih sering menggunakan bahasa Inggris sekarang sehingga aku lebih terbiasa dengan kosakatanya tapi, bahasa Indonesia tetap bahasa yang sudah aku kuasai jadi mungkin tidak ada halangan yang berarti. 
Kecuali fakta bahwa semester depan aku harus mulai menulis skripsi. 


Lalu, ketika aku berusaha tidur kadang terpikirkan beberapa hal. Salah satunya adalah masa depan. Tentu. Itu adalah hal yang pasti aku pikirkan jika aku memang sedang memikirkan sesuatu. 

Aku sekarang sedang berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa melanjutkan kuliahku ke tahap yang lebih tinggi. Walaupun aku menginginkannya, walupun aku sendiri yang berata bahwa aku akan pergi, walaupun aku sudah berusaha dan sudah berdoa sekuat tenaga, aku tahu bahwa kemungkinannya kecil. Bahwa kemunfkinan aku akan mendapatkan beasiswa itu kecil. Satu-satunya jalan untukku sadalah dengan biaya sendiri. Yang sama aja dengan aku nggak bisa berangkat. 

Lagipula aku sadar bahwa untuk menyelesaikan sekolah di sana itu tisak mudah. Aku sendiri juga tidak yakin kalau aku bsa menyelesaikannya dalam dua tahun. 

Jadi rasanya aku seperti di ambang-ambang. Dan pada akhirnya aku tahu kok kalau aku nggak mungkin bisa berangkat. Walapun aku tahu, tapi aku tetap berharap. Kali, kali aja, untuk pertama kalinya aku bisa menjadi orang beruntung. Kayak orang bodoh; berharap padahal udah tau nggak mungkin.

Mungkin emang takdirku untuk menjadi orang yang biasa-biasa aja. 

Memangnya aku mau jadi apa sih kalau sudah lulus besok? Kenapa harus sampai tinggi sekolahnya?

Aku sendiri juga nggak tau. Aku jelas nggak mau jadi dosen. Aku nggak mau jadi ilmuan (walaupun keren sih). 

Aku cuma pengen jadi pegawai biasa aja. Kerja di kantor, jadi programmer yang kemudian lama kelamaan bisa menjadi project manager atau analis atau apapun. Aku nggak berharap muluk untuk karir. Karena toh pada akhirnya kerja yang seperti ini adalah yang realistis. Kerja disebuah perusahaan yang punya "nama", yang kira-kira kalau dengar namanya akan menimbulkan reaksi. "Ohh itu, iya aku tahu."

Jadi nggak bolehkan aku menikmati masa "hebat"ku waktu aku menyelesai pendidikan lebih tinggi itu? Kan nggak lebih dari dua atau tiga tahun. 

Kan bisa jadi kebanggaanku satu-satunya. Pencapaian yang bisa aku banggakan. Yang setidaknya bisa memuaskanku. 

Karena setiap orang patut bangga akan dirinya sendiri. Karena setiap orang harus bangga pada dirinya sendiri. 

To love yourself even more. To know that you worth more than you ever thought. 

Sunday, September 25, 2016

Nobody knows

I just lost another friend. She passed away in late July. She was my middle school friends. And we're pretty close to each other.

Yang menjadi kejutan adalah bulan Agustus 2011, kami tinggal di rumah tanteku selama beberapa hari. Ketika aku masih tidur, aku mendengar ketika dia ditanyai tentang meninggalnya Dewi. Dia dekat dengan Dewi, dia bahkan teman sebangku Dewi saat SMA dan dia teman sejak SD dengannya.

Saat aku di sana, di rumah temanku untuk melayat rasanya seperti hal yang kembali terulang. Untuk kedua kalinya aku kehilangan teman dan aku harus ada di sana saat mereka harus diangkat.

It was heartbreaking moment.

Aku tidak menyangka di umurku yang baru 20 tahun, aku sudah kehilangan tiga orang teman sebayaku.

Dan baru kemarin, keponakanku yang masih berusia 6 tahun kehilangan satu temannya. Di situ aku baru tahu, tidak peduli berapa umurmu, kamu bisa ditinggal orang temanmu sendiri. Which reminds you that you're not going to live in this world forever.

Dan kemudian aku mendapatkan kabar mengejutkan dari temanku, bahwa dia sudah melahirkan seorang bayi. Kenapa aku kaget? Dia hamil, aku tidak tahu. Apa lagi menikahnya. Aku sama sekali tidak tahu. Dia menyembunyikan semuanya. Tidak satu orangpun dari teman-temanku tahu.

Seminggu yang lalu aku datang ke rumahnya untuk melihat bayinya. Dan ketika aku melihat bayi itu, she's super cute. She was so small, she can't do anything, relying everything to her mom. And then I see my friend's eyes for her baby. She's young, but she looks at her daughter lovingly. 

Nobody knows. Nobody knows when you're going to married, when you're going to have babies, when you're going to die. You just live your life as it is. Going with the flow. 

Yang lucu adalah temanku akhirnya berlabuh kepada kekasihnya yang mereka sudah menjalani hubungan selama 8 tahun, Dan akhirnya they got a baby together.
Seandainya selama 8 tahun ini aku benar serius dengannya, would I have kids with him too?

Monday, August 22, 2016

Rahasia

Yang baru aku sadari ketika aku bersama mereka ini adalah bahwa orang yang berpikiran keras, terlihat selalu ceria, dan selalu bisa meletakkan masalah probadinya di belakang ketika masalah kelompok lebih pentng itu juga mempunya rahasia yang sulit untuk dia pendam sendiri.

Dan bahwa kepada orang yang kamu rasa paling dekat tidak sedekat itu denganmu.

Karena KKN aku dapat bertemu dengan orang-orang yang dipaksa dekat dalam waktu sangat mepet dan tinggal bersama mereka selama satu bulan. Memulai hari dan menutup hari selalu bersama. Bertemu dengan orang yang berasal dari berbagai latar belakang, kebudayaan, masa lalu, pergaulan yang berbeda.

Selain senang, tentu kadang ada rasa minder dan sebagainya. Itu wajar.

Akhir-akhir ini kami mengalami turbulance di dalam kelompok kami. Tapi untungnya bisa diselesaikan dengan baik tanpa adanya permusuhan. which is good. 

Karena masa KKN kami tinggal beberapa hari juga, rahasiapun mulai terbuka satu demi satu. Salah satunya adalah masa kelam temanku.

Waktu itu kami sedang berdua duduk di depan TV. Dia kelihatan bingung mau berbuat apa. Lalu dia tiduran di atas karpet di sebelahku kemudian dia bilang kalau dia kangen keponakannya di kampung halamannya.

Rasanya, ya aneh. Dia kelihatan keras seperti itu tapi dia merindukan keponakannya, apalagi dia baru saja punya keponakan baru. Dia juga merasa sedih karena setiap keponakannya lahir dia tidak ada di sana.

Dia juga dengan bisik-bisik memberi tahu rahasianya yang lain.

Aku tidak pernah bisa membayangkan dia adalah orang yang seperti itu. Aku juga tidak pernah menyangka kalau dia akan membagikan rahasia itu kepadaku. Karena pada kenyataannya aku tidak dekat dengannya. Aku hanya orang yang menjadi hiburannya, yang berusaha membuatnya senang agar kami tetap dalam kondisi stabil dan suasana jadi ceria.

Semua orang punya masalah, semua orang punya masa lalu.

Semua orang punya rahasia. Itu yang harus aku pikirkan setiap saat. Bahwa karakter orang berbeda-beda, dan aku tidak bisa menyamakan mereka. 

Monday, July 25, 2016

1:19 AM

Can I be the only hope for you?
Because you're the only hope for me.
And if we can't find where we belong,
We'll have to make it on our own.
Face all the pain and take it on.
Because the only hope for me is you alone.

Sunday, July 24, 2016

How Do You Feel?

How would you feel, if you have someone who loved you for a long time, not just one two years but  8 years, suddenly don't like you anymore? Not hate but, don't like you, and instead looking shy in front of you like usual, they just treat you like a stranger. How would you feel? 

Ngomong-ngomong sebentar lagi aku masuk percobaan. Kalau sebulan ini aku bisa, aku yakin aku bisa untuk ke sana, untuk hidup sendiri. LOL.

Nggak kerasa, udah saatnya ambil tugas akhir. Udah saatnya buat menyusun masa depan. Nggak kerasa juga ternyata sisa waktu buat berdiet dan tampil cantik pas wisuda makin sempit. Apa aku undur masa wisuda? Nggak mungkin, nggak mau.

Habis wisuda aku ngapain? Aku sih punya rencana, tapi kayaknya rencanaku itu terlalu keterlaluan dan kayak aku serakah banget. Tapi nggak ada salahnya kan kalau mau mencoba, siapa tau memang bisa. Tapi sekali lagi, manusia itu merencanakan, yang menyetujui kan Tuhan. Kalau Tuhan bilang nggak ya gimana lagi coba? Karena kata Tuhan, pilihanNya adalah yang terbaik.

Dulu, aku pernah punya cita-cita untuk SMA di London. Tapi akhirnya aku bisa kuliah di SMAku dulu dan malah dapet teman-teman yang bikin aku luar biasa bangga dan senang. Aku pengen S1 di London, tapi akhirnya aku kuliah di sini secara nggak sengaja dan walaupun IPK pas-pasan tapi kok aku bahagia?

Karena katanya kalau bersyukur dan menikmati, kita akan bahagia.

Aku juga mau berusaha menikmati hidup jadi bisa bahagia.

Dan bisa mencapai cita-cita terpendamku, yang kayaknya sih mulia tapi karena ada embel-embel maksud tertentu sebenernya.

Namanya juga cita.cita.

Monday, May 9, 2016

Lost In Time

Entah mengapa, aku merasa di semester ini unexceptionally takes longer dari biasanya. Harinnya panjang dan rasanya nggak ada jeda sama sekali. Tapi kalo dipikir lagi kemarin udah selesai UTS dan sekarang udah mulai presentasi hasil praktikum. Pas asisten bilang, "Minggu depan presentasi, minggu depannya latihan responsi," like WHAT? Masa udah responsi aja padahal kayaknya baru kemarin aku melek begadang cuma buat kerjain laporan.

Berasa kayak zombi, berangkat kuliah semacam nggak punya pikiran apa-apa. Ditanya mau kuliah apa pasti mikir lama dulu sebelum bisa jawab. Semacam ini tubuh itu bergerak tanpa otak.

Nggak kerasa juga semester genap udah mau selesai dan *fingercrossed* sebentar lagi akan menjalani semester ganjil di program sarjana. Semoga aja gitu sih.

I will be 21 when I graduate. Dan setelah itu.... apa?

Selama 20 tahun hidupku aku cuma punya pilihan, mau lanjut di mana? Kayak aku nggak punya pilihan lain buat menentukan jalan hidupku sendiri. Aku tumbuh dan berkegiatan seperti orang-orang pada umumnya. Dan kayak kesamber petir, aku juga pengen menentukan jalan hidupku sendiri. Semacam bertanggung jawab sama pilihanku itu.

Mau nerusin apa nggak

Sebenernya pengen banget nerusin, Tapi kok kalo dipikir lagi aku bukan orang yang bisa giat belajar. Belajar aja nggak pernah, masa mau kuliah lagi. Lagipula tanggunganku itu banyak, bukan cuma aku. Seandainya aku nggak sendirian sih aku pasti degan ringan hati menentukan semuanya yang aku mau. Tapi masalahnya, aku cuma sendirian sedangkan tanggunganku banyak.

I am too busy growing up when my parent are growing older.

Semacam harus mikir lagi kalau mau nerusin kuliah.

Monday, May 2, 2016

Kecerdasan Buatan yang Bikin Orang Merasa Senang

Her happiness doesn’t depend on others, but on herself. She is a free woman, at times she needs her space and other times she needs affection. She loves to be alone, put on loud music and block out reality for a moment, but always with her feet on the ground, despite wanting to go to the moon sometimes, but she loves her family and circle of friends and would never leave them alone.

Saturday, March 26, 2016

The One Who Still Looks Back

My heart broke. 

Beberapa minggu yang lalu, laptopku yang sangat aku sayangi ini collapse dan dia harus dirawat inap. Dia divonis overdosis used-memory yang membuatnya kekuragan tempat untuk bekerja. Lalu dia juga divonis bahwa otaknya sudah kadaluarsa. Akhirnya dia dirawat inap, dipindahkan semua filenya dan diinstall ulang.

Setelah pulang, dia jadi bukan laptopku. Program-program pentingku mengilang begitu saja. Dia menjadi berbeda dan akhirnya aku harus install program satu per satu dan mengubah ini itu agar dia keliahatan seperti laptopku yang dulu.

My heart broke.

Ngomong-ngomong aku ini ma ungkin adalah tipe orang yang susah move on. Karena aku nggak bisa benar-benar pindah dari satu ke yang lain. not necessarily from person tapi bisa juga karena aliran musik.

Karena kemarin aku dalam keadaan tidak bisa sayang-sayangan sama si laptop akhitnya aku bermain sama tab seharian penuh. Lalu bosan karena nggak punya game dan lagi hemat kuota (maklum boros sih). Akhirnya kepikiran untuk nambah lagu buat mengisi keheningan. Akhirnya aku download sebuah aplikasi pemutar musik yang juga sekaligus bisa untuk mengunduh lagu secara gratis. Itupun downloadnya juga waktu ngerjain tugas bareng di toko milk tea.

Karena ternyata di sana koleksi K-POPnya sedikit akhirnya aku berlaih melihat lagu Barat dan (sound effect please) aku nemu QUEEN. Ya walaupun sebenernya punya CD banyak tapi kan nggak punya laptop jadi aku download album Greatest hits I dan III. Lalu beralih ke Panic! At The Disco. Ini juga gara-gara beberapa hari sebelumnya Channel V menayangkan salah satu lagu Panic! At The Disco jadi rasanya kangen  dan inget juga belum punya album Vices and Virtues jadi aku download itu sama album terbarunya. Dan satu lagi, Muse. Karena beberapa waktu lalu Muse mengeluarkan labum baru dan Channel V menayangkan videoscope Muse jadi kangen sama lagu-lagu dulu. Jadinya di download juga dua album yang paling aku kangenin. Paramore juga akhirnya ke-download juga. Karena selalu kelupaan buat download albumnya yang paling baru dulu akhirnya aku download semua album paramore. Maklum folder Paramore yang dulu ilang.

Dan begitulah pada akhirnya aku nggak move on. Mungkin karena udah mendarah daging buat suka lagu-lagu yang seperti ini walaupun aku masih update lagu KPOP baru. Ya gimana, mas-mas ganteng itu tidak mudah dilepaskan.

And that moment onward, I don't think I can forget about those groups who accompany me to grow up.


Sunday, February 21, 2016

Februari

Oh yeah, Februari.

Liburan selesai, lalu kembali ke kenyataan pahit kalau belum nemu judul TA.

Nggak kerasa juga ternyata aku udah berdiam diri di rumah selama tiga minggu. THREE HEAVENLY WEEKS!!

And that I turned not teen anymore, which annoyed the hell out of me.

Jadinya ya begini.

Sebenernya, waktu yang berlalu begitu cepat apa kita yang sebenernya nggak mau bergerak?

Tuesday, January 19, 2016

Masa Kejayaan

Ternyata aku sudah menjadi penulis di wattpad selama tiga setenga tahun. Dan selama itu aku sudah mempublikasikan 6 cerita di sana. 

Wow, aku tidak pernah merasa seprofuktif itu. 

Masalahnya sekarang kayaknya aku lagi dalam kondisi di mana menulis itu menjadi sangat sulit. Masalah kuliah, masalah acara TV, masalah internet dan lain sebagainya ternyata sangat menggangu. Atau mungkin aku lagi nggak punya perasaan. Biasanya kalau aku patah hati aku punya bayangan luar biasa aneh kemudian aku tuangkan menjadi sebuah cerita. Kalau aku jatuh cinta aku juga menuankannya menjadi cerita. 

Tapi terakhir aku patah hati itu setahun yang lalu. Setahun yang lalu aku juga mulai menulis sebuah cerita. Tapi cerit aitu sampai sekaeang juga belum selesai. 

Apa penyebabnya?

Mungkin karena aku sudah kapok patah hati aku jadi nggak mau jatuh cinta. Aku juga jadi nggak mau menjadi orang yang menye-menye karena cinta. 

Tapi rasanya kangen juga untuk nulis. Kangen buat nunggu tengah malem pas semuanya lagi tidur terus menuangkan semua ide di kepala ditemenin sama teman imajinasiku. Kemudian aku berhenti menulis pas hampir subuh. 

Kangen masa-masa aku mengunggah cerita di wattpad kemudian mendapatkan feedback dan membalas komentarnya satu per satu. Aku kangen membaca bab yang baru saja aku unggah kembali sambil membayangkan cerita berikutnya. 

Aku kangen menuliskan kata "fin" ketika cerita itu selesai. 

Kapan terakhir kali aku bisa menyelesaikan draft-draft naskahku? Setahun yang lalu?

Coba nanti aku usahakan aku bisa menulis lagi. Bulan depan kan semuanya sudah selesai, jadi mungkin aku bisa mengumpulkan ide-ide kemudian aku tulis kembali menjadi lebih menarik. Mark kita coba. 

Siapa tahu masa kejayaan kembali terulang.